Business Matching Indonesia-Saudi Arabia Partnership Forum 2026 bertema Building Strategic Partnership for a Sustainable Pilgrim Supply Chain yang berlangsung di Jakarta. Foto Kemenhaj.
Jakarta, BeritaHaji.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mendorong penguatan kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi untuk membangun rantai pasok atau supply chain haji dan umrah yang berkelanjutan.
Upaya tersebut dibahas dalam Business Matching Indonesia-Saudi Arabia Partnership Forum 2026 bertema Building Strategic Partnership for a Sustainable Pilgrim Supply Chain yang berlangsung di Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.
Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, eksportir, UMKM, asosiasi industri, hingga mitra strategis dari Arab Saudi.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan forum tersebut menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem ekonomi haji dan umrah yang lebih terintegrasi.
"Forum ini bukan sekadar mempertemukan pelaku usaha, tetapi menjadi titik awal membangun ekosistem yang solid sehingga produsen, UMKM, dan eksportir Indonesia dapat memasuki pasar Arab Saudi secara terstruktur dan berkelanjutan. Di sinilah fondasi rantai pasok haji yang kuat mulai dibangun," ujarnya.
Menurut Jaenal, Indonesia memiliki peluang besar untuk memasok berbagai kebutuhan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Namun, peluang tersebut perlu didukung dengan koordinasi, konektivitas, dan kemitraan yang lebih kuat agar mampu masuk ke pasar Arab Saudi secara berkelanjutan.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki prospek besar adalah penyediaan bahan pangan untuk kebutuhan katering jemaah haji.
Jaenal mengatakan, masih banyak anggapan bahwa katering haji hanya membutuhkan bumbu dan makanan siap saji atau ready to eat (RTE). Padahal, kebutuhan yang diperlukan jauh lebih beragam.
Berbagai komoditas seperti beras, ikan, daging, sayuran, tepung, minyak goreng, rempah segar, produk susu, hingga bahan pangan lainnya juga menjadi bagian dari rantai pasok katering haji.
Menurutnya, kebutuhan tersebut membuka peluang bagi sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga industri pangan olahan nasional untuk menjadi bagian dari rantai pasok haji dan umrah global.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) mendorong pembentukan konsorsium ekspor yang dikoordinasikan oleh eksportir yang memiliki kompetensi dan kapasitas.
Skema itu diharapkan mampu menjaga kualitas sekaligus kesinambungan pasokan sesuai standar Arab Saudi. Selain itu, konsorsium juga diharapkan memberikan kepastian pasar bagi produsen dan UMKM serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Selain pembentukan konsorsium, Ditjen PE2HU juga mendorong harmonisasi standar halal dan keamanan pangan, pembangunan pusat logistik terpadu, pengembangan sumber daya manusia, transfer teknologi, hingga pembentukan Koridor Makanan Haji Indonesia.
"Kami ingin membangun ekosistem ekonomi haji yang inklusif sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku industri nasional. Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra Arab Saudi, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen sekaligus pemasok utama kebutuhan haji dan umrah dunia," jelas Jaenal.
Melalui forum tersebut, Kemenhaj berharap kemitraan bisnis Indonesia dan Arab Saudi semakin kuat. Kerja sama itu diharapkan dapat mempererat hubungan ekonomi kedua negara sekaligus membangun rantai pasok haji dan umrah yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

.png)
