
Masyarakat sedang menghadiri walimatussafar. Foto ist.
BeritaHaji.id - Walimatus safar menjadi salah satu tradisi yang masih kuat dijalankan masyarakat Indonesia menjelang keberangkatan haji.
Tradisi ini tidak sekadar seremoni, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan sosial yang mendalam.
Berikut lima fakta walimatus safar yang perlu diketahui:
1. Digelar jauh hari sebelum keberangkatan
Walimatus safar umumnya dilaksanakan sebelum calon jemaah berangkat ke Tanah Suci. Waktunya tidak selalu mepet dengan jadwal keberangkatan, bahkan bisa dilakukan cukup jauh hari sebelumnya.
Di sejumlah daerah, tradisi ini digelar sekitar tiga hari hingga satu pekan sebelum keberangkatan. Namun, ada juga yang melaksanakannya hingga satu bulan sebelumnya, menyesuaikan kesiapan keluarga dan lingkungan.
Momentum ini menjadi penanda awal bagi calon jemaah untuk berpamitan secara terbuka kepada masyarakat sekitar.
2. Dikemas layaknya hajatan
Secara umum, walimatus safar berlangsung seperti acara hajatan keluarga. Tuan rumah mengundang tetangga, kerabat, hingga tokoh masyarakat untuk hadir.
Hidangan makan dan minum disiapkan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Bahkan, dalam banyak kasus, tamu juga membawa pulang berkat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Suasana kekeluargaan menjadi ciri khas yang tidak terpisahkan dari tradisi ini.
3. Diisi kegiatan keagamaan
Selain jamuan, walimatus safar juga diisi dengan berbagai kegiatan religius. Acara biasanya diawali dengan tahlil atau pembacaan doa bersama.
Selanjutnya, dilanjutkan dengan pembacaan sholawat dan tausiyah yang disampaikan oleh tokoh agama setempat. Isi tausiyah umumnya berkaitan dengan kesiapan spiritual dalam menunaikan ibadah haji.
Rangkaian ini menegaskan bahwa walimatus safar bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga sarana penguatan ibadah.
4. Tidak hanya untuk calon jemaah haji
Meski identik dengan keberangkatan haji, walimatus safar juga dilakukan oleh sebagian masyarakat yang akan menunaikan ibadah umrah.
Tradisi ini berkembang sebagai bentuk syiar dan doa bersama, tanpa membedakan jenis perjalanan ibadah ke Tanah Suci.
Di beberapa daerah, praktik ini bahkan menjadi kebiasaan umum yang melekat dalam budaya keagamaan masyarakat.
5. Ajang memohon doa dan titip harapan
Walimatus safar menjadi momen bagi keluarga dan masyarakat untuk mendoakan keselamatan serta kelancaran ibadah calon jemaah.
Di sisi lain, tamu yang hadir juga kerap menitipkan doa. Harapannya, doa tersebut dapat dipanjatkan saat jemaah berada di tempat-tempat mustajab di Tanah Suci.
Interaksi ini memperlihatkan kuatnya ikatan spiritual antara jemaah dan lingkungan sosialnya.
.png)

.png)