Kemenhaj Perketat Konsumsi Jemaah di Madinah

Arifah
0

Tim pengawas dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung melakukan pengawasan ketat dan berlapis terhadap seluruh proses penyediaan makanan di Madinah. Foto Kemenhaj.

Madinah. BeritaHaji.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memperketat pengawasan konsumsi menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia di Madinah. Pengawasan dilakukan berlapis mulai dari proses memasak hingga makanan tiba di hotel.

Perwakilan tim pengawas dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung, Nova MH, mengatakan pemeriksaan dilakukan rutin setiap hari mengikuti jadwal makan jemaah.

“Pengecekan rutin dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” ujarnya di Madinah, Minggu, 19 April 2026.

Ia menjelaskan, tim sudah mulai bekerja sejak dini hari untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga. Untuk menu sarapan, pengawasan dimulai pukul 00.00 hingga 04.00 saat proses memasak berlangsung. Sementara untuk makan siang, pengecekan dilakukan sejak pagi.

Selain proses produksi, pengawasan juga menyasar penyimpanan bahan makanan, baik bahan segar maupun bahan kering, guna memastikan seluruh bahan masih layak konsumsi.

Di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi, suhu makanan saat distribusi menjadi perhatian utama agar kualitas tetap terjaga.

“Makanan harus berada pada suhu 60–70 derajat Celsius saat didistribusikan ke hotel agar tetap higienis dan tidak mudah basi,” jelas Nova.

Ia juga mengimbau jemaah agar segera mengonsumsi makanan setelah diterima untuk menjaga kualitas dan kebersihannya.

Selain keamanan pangan, kandungan gizi makanan juga menjadi fokus utama. Menu disusun seimbang dengan asupan protein, karbohidrat, dan serat guna menjaga kondisi fisik jemaah selama beribadah.

Sumber protein disiapkan dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe. Sementara kebutuhan karbohidrat dipenuhi melalui nasi dengan porsi yang telah diukur.

Adapun kebutuhan vitamin dan serat dipenuhi dari sayuran serta buah-buahan seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.

“Kami juga menambahkan menu seperti puding untuk membantu asupan serat jemaah,” tambahnya.

Keterbatasan sayuran hijau di Arab Saudi, kata dia, disiasati dengan bahan yang tersedia tanpa mengurangi nilai gizi. Bahkan menu khas Indonesia seperti tempe tetap dihadirkan agar sesuai selera jemaah.

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top