Jemaah haji tiba di Mina. Foto Kemenhaj.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff memgatakan Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Kemenhaj memperkuat layanan pelindungan jemaah haji Indonesia dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di sejumlah titik strategis kawasan Jamarat.
“MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina," ujarnya.
"Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria di Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.
Posko MCR ditempatkan tidak hanya di satu titik, melainkan tersebar di area Jamarat serta jalur perlintasan jemaah. Tujuannya agar petugas bisa bergerak cepat saat terjadi kondisi darurat di lapangan.
Ia menjelaskan MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas..
Selain MCR, Kemenhaj juga menurunkan 1.356 Petugas Satgas Mina yang disebar di berbagai titik pantau, jalur pergerakan jemaah, hingga pos-pos strategis di sekitar Jamarat.
Pos pantau tersebut berada di sejumlah lokasi penting, mulai dari Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, hingga area depan syarikah serta titik pengarah arus jemaah menuju Jamarat.
Petugas Satgas Mina ini bertugas memastikan alur pergerakan jemaah tetap tertib, membantu pengaturan arus saat lontar jumrah, serta mengantisipasi terjadinya kepadatan di titik-titik rawan.
Pada saat yang sama, pemerintah juga mengingatkan agar jemaah mengikuti seluruh jadwal lontar jumrah yang telah ditetapkan dan tidak melaksanakan di luar waktu yang sudah diatur.
Pada 11 Dzulhijjah 1447 H, jemaah haji Indonesia dijadwalkan melaksanakan lontar tiga jumrah yakni Ula, Wustha, dan Aqabah dengan pembagian waktu tertentu dalam dua sesi pelaksanaan.
Waktu larangan melontar pada 11 Dzulhijjah berlaku pukul 11.00 sampai dengan 18.00 waktu Arab Saudi. Sementara sesi pelaksanaan dibagi pada pukul 17.00 sampai 24.00 dan 00.00 sampai 04.00 waktu Arab Saudi pada 12 Dzulhijjah.
Kemudian pada 12 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah kembali dibagi dalam dua sesi, yakni pukul 05.00 sampai 10.30 dan 18.00 sampai 24.00 waktu Arab Saudi. Adapun waktu larangan berlaku pukul 11.00 sampai 14.00.
Untuk 13 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00 sampai 12.00 waktu Arab Saudi dan tidak ada waktu larangan khusus sebagaimana hari sebelumnya.
Di tengah padatnya aktivitas ibadah, jemaah diminta tidak memaksakan diri dan selalu berada dalam rombongan saat bergerak menuju Jamarat. Petugas juga mengingatkan agar jemaah mengikuti arahan ketua kloter dan pembimbing ibadah.
“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” kata Maria.
Kemenhaj juga menyoroti kondisi cuaca panas di Mina yang masih berlangsung pada siang hari. Jemaah diminta menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, istirahat, dan mengurangi aktivitas berat.
Selain itu, perhatian khusus diminta diberikan kepada jemaah lansia, perempuan, disabilitas, serta mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi selama menjalani rangkaian ibadah di Mina.
“Kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jemaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, segera laporkan kepada petugas terdekat,” ujar Maria.
Seluruh rangkaian pengamanan dan layanan di fase Mina disebut akan terus diperkuat hingga seluruh proses Armuzna selesai, mulai dari transportasi hingga layanan kesehatan jemaah.
“Kami mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” tutup Maria.

.png)
