Jemaah haji di Arafah. Foto: Kemenag.
BeritaHaji.id - Menjelang Hari Arafah, pertanyaan soal waktu terbaik berdoa kembali ramai dibahas umat Muslim di Indonesia.
Banyak yang bertanya apakah doa harus disesuaikan dengan waktu jamaah haji menjalani wukuf di Padang Arafah, mengingat perbedaan waktu Indonesia dan Mekkah sekitar empat jam.
Persoalan ini dijelaskan oleh Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri). Dikutip dari laman resmi Amphuri, keutamaan Hari Arafah sejatinya berlaku sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di masing-masing wilayah.
“Kalau jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah, lalu bagaimana dengan kita yang di Indonesia yang berbeda waktu sekitar empat jam dengan Mekkah? Kapan waktu terbaik untuk berdoa?” demikian pertanyaan yang banyak muncul di tengah masyarakat Muslim Indonesia.
Amphuri menjelaskan Hari Arafah merupakan salah satu momen paling mulia dalam Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bahkan menyebut doa pada Hari Arafah sebagai doa terbaik.
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.” (HR. Tirmidzi).
Dalam penjelasannya, Amphuri menyebut tidak ada hadis shahih yang memerintahkan umat Islam di seluruh dunia harus menyeragamkan waktu doa dengan jadwal wukuf di Mekkah.
Mayoritas ulama, kata Amphuri, memahami kemuliaan Hari Arafah berlaku ketika sebuah negeri sudah memasuki tanggal 9 Dzulhijjah.
Artinya, saat Indonesia sudah masuk 9 Dzulhijjah, maka umat Muslim di Tanah Air juga telah berada dalam keutamaan Hari Arafah.
Meski begitu, banyak umat Islam tetap memilih mengikuti momentum wukuf di Arafah untuk memperbanyak doa dan ibadah. Sebab pada waktu itu jutaan jamaah haji sedang bermunajat dan memohon ampunan Allah SWT di Padang Arafah.
Secara umum, wukuf berlangsung setelah Dzuhur hingga menjelang Maghrib waktu Mekkah. Jika dikonversi ke Indonesia, waktunya diperkirakan berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Karena itu, waktu sore hingga malam Hari Arafah di Indonesia sering dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, hingga bermuhasabah.
Namun Amphuri menegaskan inti utama Hari Arafah bukan semata soal ketepatan waktu berdoa, melainkan ketulusan hati saat memohon kepada Allah SWT.
“Karena Allah tidak pernah salah mendengar doa hamba-Nya. Boleh jadi, doa yang paling dicintai Allah bukanlah doa yang paling tepat waktunya, tetapi doa yang lahir dari hati yang paling tulus, paling hancur, dan paling sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya," tulisnya dalam laman resmi, Selasa 26 Mei 2026.
Amphuri pun mengingatkan umat Muslim agar tidak sibuk memperdebatkan teknis waktu semata saat Hari Arafah tiba.
“Maka ketika Hari Arafah tiba, jangan sibuk memperdebatkan soal teknis waktu semata. Sibukkanlah hati kita untuk mendekat kepada Allah. Karena sesungguhnya, yang paling dicari Allah bukan sekadar suara doa kita, tetapi hati yang benar-benar selalu kembali kepada-Nya," tambahnya.
Persoalan ini dijelaskan oleh Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri). Dikutip dari laman resmi Amphuri, keutamaan Hari Arafah sejatinya berlaku sesuai tanggal 9 Dzulhijjah di masing-masing wilayah.
“Kalau jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah, lalu bagaimana dengan kita yang di Indonesia yang berbeda waktu sekitar empat jam dengan Mekkah? Kapan waktu terbaik untuk berdoa?” demikian pertanyaan yang banyak muncul di tengah masyarakat Muslim Indonesia.
Amphuri menjelaskan Hari Arafah merupakan salah satu momen paling mulia dalam Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bahkan menyebut doa pada Hari Arafah sebagai doa terbaik.
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.” (HR. Tirmidzi).
Dalam penjelasannya, Amphuri menyebut tidak ada hadis shahih yang memerintahkan umat Islam di seluruh dunia harus menyeragamkan waktu doa dengan jadwal wukuf di Mekkah.
Mayoritas ulama, kata Amphuri, memahami kemuliaan Hari Arafah berlaku ketika sebuah negeri sudah memasuki tanggal 9 Dzulhijjah.
Artinya, saat Indonesia sudah masuk 9 Dzulhijjah, maka umat Muslim di Tanah Air juga telah berada dalam keutamaan Hari Arafah.
Meski begitu, banyak umat Islam tetap memilih mengikuti momentum wukuf di Arafah untuk memperbanyak doa dan ibadah. Sebab pada waktu itu jutaan jamaah haji sedang bermunajat dan memohon ampunan Allah SWT di Padang Arafah.
Secara umum, wukuf berlangsung setelah Dzuhur hingga menjelang Maghrib waktu Mekkah. Jika dikonversi ke Indonesia, waktunya diperkirakan berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Karena itu, waktu sore hingga malam Hari Arafah di Indonesia sering dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, hingga bermuhasabah.
Namun Amphuri menegaskan inti utama Hari Arafah bukan semata soal ketepatan waktu berdoa, melainkan ketulusan hati saat memohon kepada Allah SWT.
“Karena Allah tidak pernah salah mendengar doa hamba-Nya. Boleh jadi, doa yang paling dicintai Allah bukanlah doa yang paling tepat waktunya, tetapi doa yang lahir dari hati yang paling tulus, paling hancur, dan paling sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya," tulisnya dalam laman resmi, Selasa 26 Mei 2026.
Amphuri pun mengingatkan umat Muslim agar tidak sibuk memperdebatkan teknis waktu semata saat Hari Arafah tiba.
“Maka ketika Hari Arafah tiba, jangan sibuk memperdebatkan soal teknis waktu semata. Sibukkanlah hati kita untuk mendekat kepada Allah. Karena sesungguhnya, yang paling dicari Allah bukan sekadar suara doa kita, tetapi hati yang benar-benar selalu kembali kepada-Nya," tambahnya.

.png)
