Sinergi Kolaboratif Mendukung Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah. Foto Kemenhaj.
BOGOR, Blok7.id - Pengelolaan area komersial di hotel-hotel jemaah haji Indonesia di Arab Saudi dinilai mulai memberi dampak terhadap efisiensi penyelenggaraan ibadah haji.
Hasil pengelolaan tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk membantu menekan biaya yang dibebankan kepada jemaah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PEEHU) Kementerian Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengatakan nilai manfaat yang diperoleh dari optimalisasi area komersial hotel di Makkah akan dikembalikan untuk kepentingan jemaah pada penyelenggaraan haji 1448 H/2027 M.
“Kesuksesan penyelenggaraan haji 1447 H harus diikuti dengan langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban biaya yang ditanggung jemaah pada musim haji berikutnya,” tegas Jaenal dalam kegiatan Sinergi Kolaboratif Mendukung Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah di Bogor, Rabu, 24 Juni 2026.
Program optimalisasi tersebut merupakan hasil kerja sama Direktorat Jenderal PEEHU Kemenhaj dengan BPKH Limited.
“Kesuksesan penyelenggaraan haji 1447 H harus diikuti dengan langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban biaya yang ditanggung jemaah pada musim haji berikutnya,” tegas Jaenal dalam kegiatan Sinergi Kolaboratif Mendukung Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah di Bogor, Rabu, 24 Juni 2026.
Program optimalisasi tersebut merupakan hasil kerja sama Direktorat Jenderal PEEHU Kemenhaj dengan BPKH Limited.
Dari kerja sama itu, Kementerian Haji dan Umrah menerima 60 persen nilai manfaat dari pengelolaan area komersial hotel jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Jaenal menilai kolaborasi tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Sukses Haji, khususnya dalam memperkuat ekosistem ekonomi haji yang berkelanjutan.
“Terima kasih kepada BPKH Limited dan seluruh jajaran Ditjen PEEHU yang telah bekerja optimal selama musim haji. Semoga capaian ini semakin memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama BPKH Limited Sidiq Haryono mengungkapkan pendapatan dari area komersial justru meningkat meski jumlah tenant yang beroperasi lebih sedikit dibanding musim haji sebelumnya.
“Pada musim haji 1447 H/2026 M, terdapat 45 tenant aktif yang beroperasi di area hotel jemaah haji Indonesia. Meskipun jumlah unit yang digunakan menurun dari 86 unit pada tahun 2025 menjadi 62 unit pada tahun ini, pendapatan sewa dan pendapatan bersih tetap mengalami peningkatan,” ujar Sidiq.
Menurutnya, pendapatan sewa tenant naik 23,32 persen dibanding musim haji 2025. Kondisi tersebut ikut mendorong efisiensi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) menjadi 457.151,30 SAR atau meningkat 10,36 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 414.250,44 SAR.
Sidiq mengatakan tenant kuliner masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Warung Madura Bunda Risma dan Spesial Soto Boyolali (SSB) menjadi dua tenant dengan jumlah konsumen terbanyak. Selain itu, pengembangan usaha juga dilakukan pada sektor jasa kargo, branding, dan laundry.
Ke depan, Jaenal mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji akan diperluas ke sektor strategis lainnya seperti akomodasi, transportasi, dan konsumsi.
“Dengan BPKH Limited sebagai garda terdepan, kami berharap nilai manfaat yang dihasilkan pada tahun-tahun mendatang semakin meningkat melalui diversifikasi usaha, termasuk pada sektor akomodasi, transportasi, dan konsumsi,” katanya.
Hal senada disampaikan Deputi Investasi Langsung dan Investasi Lainnya BPKH, Anas. Menurutnya, BPKH akan terus mengembangkan investasi dana haji berbasis syariah agar manfaat yang diterima jemaah semakin besar.
“BPKH akan terus mengoptimalkan berbagai potensi investasi yang memberikan manfaat langsung bagi jemaah, termasuk pada sektor akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga telekomunikasi,” ujar Anas.
Jaenal menilai kolaborasi tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Sukses Haji, khususnya dalam memperkuat ekosistem ekonomi haji yang berkelanjutan.
“Terima kasih kepada BPKH Limited dan seluruh jajaran Ditjen PEEHU yang telah bekerja optimal selama musim haji. Semoga capaian ini semakin memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama BPKH Limited Sidiq Haryono mengungkapkan pendapatan dari area komersial justru meningkat meski jumlah tenant yang beroperasi lebih sedikit dibanding musim haji sebelumnya.
“Pada musim haji 1447 H/2026 M, terdapat 45 tenant aktif yang beroperasi di area hotel jemaah haji Indonesia. Meskipun jumlah unit yang digunakan menurun dari 86 unit pada tahun 2025 menjadi 62 unit pada tahun ini, pendapatan sewa dan pendapatan bersih tetap mengalami peningkatan,” ujar Sidiq.
Menurutnya, pendapatan sewa tenant naik 23,32 persen dibanding musim haji 2025. Kondisi tersebut ikut mendorong efisiensi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) menjadi 457.151,30 SAR atau meningkat 10,36 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 414.250,44 SAR.
Sidiq mengatakan tenant kuliner masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Warung Madura Bunda Risma dan Spesial Soto Boyolali (SSB) menjadi dua tenant dengan jumlah konsumen terbanyak. Selain itu, pengembangan usaha juga dilakukan pada sektor jasa kargo, branding, dan laundry.
Ke depan, Jaenal mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji akan diperluas ke sektor strategis lainnya seperti akomodasi, transportasi, dan konsumsi.
“Dengan BPKH Limited sebagai garda terdepan, kami berharap nilai manfaat yang dihasilkan pada tahun-tahun mendatang semakin meningkat melalui diversifikasi usaha, termasuk pada sektor akomodasi, transportasi, dan konsumsi,” katanya.
Hal senada disampaikan Deputi Investasi Langsung dan Investasi Lainnya BPKH, Anas. Menurutnya, BPKH akan terus mengembangkan investasi dana haji berbasis syariah agar manfaat yang diterima jemaah semakin besar.
“BPKH akan terus mengoptimalkan berbagai potensi investasi yang memberikan manfaat langsung bagi jemaah, termasuk pada sektor akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga telekomunikasi,” ujar Anas.

.png)
