Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Cetak Biru Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah. Foto Kemenhaj.
Bogor. BeritaHaji.id – Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Cetak Biru Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah digelar di Science Techno Park IPB, Senin, 23 Februari 2025.
Forum ini mempertemukan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dengan IPB University untuk memperkuat fondasi akademik dan teknis pengembangan ekosistem ekonomi haji.
FGD tersebut tidak hanya membahas arah kebijakan, tetapi juga merumuskan pola kolaborasi antara kementerian, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan UMKM dalam membangun rantai nilai ekonomi haji yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, menegaskan bahwa penguatan ekosistem ekonomi haji merupakan mandat regulasi nasional.
“Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 dan Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2025 secara tegas memberikan mandat kepada Kemenhaj untuk memimpin transformasi sektor haji, termasuk dalam membangun ekosistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Jaenal.
Ia menyebut penyusunan cetak biru sebagai langkah strategis untuk mengubah pola pengelolaan haji yang selama ini berorientasi layanan, menjadi sistem ekonomi yang produktif.
“Penguatan cetak biru ini menjadi fondasi agar pengelolaan haji tidak hanya berorientasi pada layanan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi dan berdampak luas,” tambahnya.
Menurut Jaenal, ekosistem ekonomi haji mencakup berbagai sektor, mulai dari transportasi dan logistik, akomodasi, konsumsi pangan, layanan kesehatan dan bimbingan ibadah, efisiensi digital, produk halal unggulan, hingga keuangan syariah inovatif.
Dengan kuota 221.000 jemaah haji Indonesia, potensi ekonomi yang dihasilkan dinilai sangat besar dan membutuhkan integrasi rantai pasok secara sistematis.
Adapun ddalam penguatan substansi tersebut, IPB dilibatkan untuk memperkuat aspek sains dan teknologi, khususnya pada pilar konsumsi pangan. Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menyatakan kesiapan IPB menjadi mitra strategis pemerintah.
“IPB siap berkontribusi dalam penyusunan naskah akademik dan penguatan cetak biru, termasuk melalui standar gizi dan formulasi menu jemaah, inovasi produk pangan adaptif, serta pengembangan sistem rantai pasok berbasis teknologi,” tegas Alim.
Dalam pemaparannya, IPB juga menawarkan kontribusi konkret, mulai dari penyusunan standar gizi jemaah berbasis evidence, pengembangan produk pangan rendah indeks glikemik dan tahan distribusi, hingga penerapan smart traceability berbasis AI dan teknologi digital untuk menjamin mutu dan keamanan pangan.
Adapun ddalam penguatan substansi tersebut, IPB dilibatkan untuk memperkuat aspek sains dan teknologi, khususnya pada pilar konsumsi pangan. Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menyatakan kesiapan IPB menjadi mitra strategis pemerintah.
“IPB siap berkontribusi dalam penyusunan naskah akademik dan penguatan cetak biru, termasuk melalui standar gizi dan formulasi menu jemaah, inovasi produk pangan adaptif, serta pengembangan sistem rantai pasok berbasis teknologi,” tegas Alim.
Dalam pemaparannya, IPB juga menawarkan kontribusi konkret, mulai dari penyusunan standar gizi jemaah berbasis evidence, pengembangan produk pangan rendah indeks glikemik dan tahan distribusi, hingga penerapan smart traceability berbasis AI dan teknologi digital untuk menjamin mutu dan keamanan pangan.


