Jemaah haji Indonesia 2025. Foto Kemenag.
Makkah. BeritaHaji.id - Sa'i antara Bukit Shafa dan Marwa bukan sekadar rangkaian ibadah fisik dalam haji maupun umrah.
Di balik perjalanan itu, terdapat makna tentang perjuangan, keteguhan, hingga penghambaan total kepada Allah SWT.
Sejarah sa'i sendiri tidak lepas dari kisah Sayyidah Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, yang berlari antara dua bukit demi mencari air untuk anaknya. Langkah itu dilakukan bukan karena putus asa, melainkan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah.
Karena itu, para jemaah dianjurkan menghidupkan sa'i dengan doa dan zikir, bukan sekadar berjalan atau berlari kecil semata.
Sejarah sa'i sendiri tidak lepas dari kisah Sayyidah Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, yang berlari antara dua bukit demi mencari air untuk anaknya. Langkah itu dilakukan bukan karena putus asa, melainkan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah.
Karena itu, para jemaah dianjurkan menghidupkan sa'i dengan doa dan zikir, bukan sekadar berjalan atau berlari kecil semata.
Di antara doa yang diriwayatkan diamalkan para sahabat Nabi SAW saat sa'i adalah doa yang dibaca Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma.
Diriwayatkan, ketika turun dari Bukit Shafa dan mulai berlari-lari kecil, Abdullah bin Mas'ud membaca doa:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
Riwayat serupa juga datang dari Abu Ishaq rahimahullah yang mendengar Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma membaca doa yang sama saat berada di antara Shafa dan Marwa.
Doa tersebut tidak hanya diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra, tetapi juga tercantum dalam Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah dan kitab Ad-Du'a karya Ath-Thabrani.
Dalam doa itu, terdapat dua permohonan utama seorang hamba kepada Allah SWT, yakni ampunan dan rahmat. Permohonan ampun dipanjatkan karena manusia tidak pernah luput dari dosa, sementara rahmat dibutuhkan agar setiap amal mendapat nilai di sisi Allah.
Doa itu juga ditutup dengan pujian kepada Allah melalui dua nama-Nya yang agung, yakni Al-'Aziz dan Al-Akram.
Al-'Aziz menunjukkan bahwa Allah Maha Perkasa dan memiliki kekuasaan mutlak untuk mengampuni maupun menghukum. Sedangkan Al-Akram menunjukkan keluasan karunia Allah yang memberi tanpa batas kepada hamba-Nya.
Makna doa tersebut seolah menggambarkan pengakuan seorang hamba yang datang penuh dosa, namun tetap berharap kepada kasih sayang dan ampunan Allah SWT.
Sa'i juga menjadi pengingat tentang pentingnya menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Hal itu tercermin dari kisah Sayyidah Hajar yang terus berusaha di tengah kesulitan dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Karena itu, ketika menjalankan sa'i antara Shafa dan Marwa, jemaah dianjurkan tidak membiarkan lisan kosong. Doa-doa yang diamalkan para sahabat dapat menjadi amalan untuk menghidupkan perjalanan ibadah tersebut.


.png)
