Jemaah haji Indonesia 2026. Foto Kemenhaj.
Makkah. BeritaHaji.id - Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Musyrif Diny Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengajak jamaah haji Indonesia mendoakan Presiden Prabowo Subianto dan para pemimpin bangsa.
Menurut Prof Niam, doa dari jamaah di Tanah Suci penting untuk kebaikan bangsa dan masa depan Indonesia.
“Jangan lupa mendoakan Presiden dan para pemimpin negeri untuk dapat memimpin dan membangun bangsa Indonesia dengan adil, bijaksana,” kata Prof Niam kepada MUI Digital, Ahad, 17 Mei 2026.
Selain itu, Ketua MUI Bidang Fatwa tersebut juga mengimbau jamaah agar memperbanyak doa untuk kelancaran seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini.
“Berdoa kepada Allah SWT atas kelancaran pelaksanaan ibadah haji, keluarga yang sakinah, dan masyarakat bangsa Indonesia yang damai dan sejahtera,” sambungnya.
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta itu menilai momentum haji juga harus dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan kehidupan berbangsa.
“Perbaiki negeri mulai dari memperbaiki diri sendiri. Etos haji adalah etos kesetaraan, kebersamaan, kejujuran dan kerja keras,” ujarnya.
Di sisi lain, Prof Niam mengingatkan jamaah agar menjaga kondisi fisik menjelang Armuzna. Jamaah diminta tidak memforsir diri dan fokus mempersiapkan ibadah mulai 8 hingga 13 Dzulhijjah.
Dia mengimbau jamaah menjaga pola makan, cukup istirahat, dan tetap tenang selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ibadah haji itu ada unsur ibadah jasmaniyah, ibadah fisik, makanya butuh kebugaran. Di samping ibadah maliyah (karenanya butuh biaya) dan ibadah ruhiyah, mental spiritual,” tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat itu juga meminta pembimbing ibadah lebih mengintensifkan pembekalan fikih haji praktis kepada jamaah.
Menurut dia, jamaah perlu memahami syarat dan rukun haji, kewajiban yang harus dipenuhi, larangan yang harus dihindari, hingga amalan-amalan tertentu di Tanah Suci.
“Jangan hanya sekedar berangkat ke Tanah Suci tanpa membekali diri dengan ilmu manasik haji. Karena haji adalah ibadah mahdlah yang harus memenuhi syarat rukun serta ketentuan agama,” jelasnya.
Prof Niam turut mengajak jamaah memperbanyak ibadah dan salat berjamaah selama berada di Makkah.
"Shalat lima waktu berjamaah. Bagi yang sehat dapat ke Masjidil Haram dengan memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia," sambungnya.
Sementara bagi jamaah yang memiliki uzur atau keterbatasan kesehatan, dia meminta agar tetap melaksanakan salat berjamaah di masjid sekitar tempat tinggal.
Ketua Umum Majelis Alumni IPNU itu juga menegaskan seluruh kawasan tempat tinggal jamaah haji Indonesia di Makkah masih termasuk Tanah Haram yang memiliki keutamaan tersendiri.
“Jamaah haji perlu terus mengaji dan memahami tata cara manasik haji secara benar. Pembimbing ibadah perlu mengintensifkan pembekalan fikih haji praktif,” tegasnya.

