Jumaria Perempuan asal Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Foto MUI.
Madinah. BeritaHaji.id - Puluhan tahun hidup sederhana sebagai petani sawah dan buruh kebun akhirnya mengantarkan Jumaria ke Tanah Suci.
Mengutip laman MUI, erempuan asal Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan itu kini menjadi sorotan usai ditetapkan sebagai “Ikon Haji 2026”.
Kisah perjuangan Jumaria viral di media sosial setelah diunggah oleh Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi melalui akun @makkahroute. Ia dipilih sebagai Ikon Haji 2026 atas rekomendasi Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
Jumaria tergabung dalam Embarkasi UPG Kloter 14. Di usianya yang telah lebih dari 70 tahun, ia akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Kota Suci Madinah setelah hampir 20 tahun menabung untuk berhaji.
Sehari-hari, Jumaria hidup seorang diri di rumah sederhana yang berada di tengah area persawahan. Ia bekerja sebagai petani sawah sekaligus buruh kebun demi memenuhi kebutuhan hidup dan mengumpulkan biaya haji.
Sedikit demi sedikit hasil panen dan upah kerja ia sisihkan dengan disiplin.
“Kalau sudah panen padi, aku jual, baru kusimpan,” tutur Jumaria mengutip laman MUI.
Tak hanya hasil sawah, upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain juga rutin ia tabung.
“Kadang 500, kadang 700. Ada lagi punya kebun yang kukerja, dia kasih 200, saya simpan,” katanya.
Karena tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang, Jumaria menaruh tabungannya di berbagai sudut rumah agar tidak diketahui orang lain. Mulai dari bawah kasur hingga ember yang ditutup kain bekas.
Dalam kondisi hidup serba terbatas, Jumaria memilih mempertahankan uang hajinya tetap utuh meski harus hidup sederhana.
“Kalau tidak ada lauk, saya masak daun ubi saja,” ujarnya.
Sesekali, ia memasak telur dari ayam peliharaannya untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Seluruh perjuangan panjang itu kini terbayar. Di Tanah Suci, Jumaria mengaku bersyukur cita-cita yang ia jaga selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
“Aku berdoa supaya panjang umur saja, semoga dikasih ke sini lagi,” ucapnya penuh haru.
Di balik kisah perjuangannya, Jumaria juga dikenal memiliki kondisi fisik yang sangat baik. Ketua Kloter 14 UPG, Siti Hawaisyah, mengatakan Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 karena memiliki istithaah kesehatan yang prima.
Menurutnya, kondisi fisik dan mental Jumaria dinilai sangat siap menjalankan ibadah haji.
“Itu buktinya tidak merah kartu kesehatannya, berarti dia sehat,” ujar Siti Hawaisyah.
Meski telah lanjut usia, Jumaria disebut sangat aktif dan mandiri. Bahkan selama mengikuti manasik haji di daerahnya, ia tidak pernah absen dari total 80 kali pertemuan.
“Biar hujan atau panas, pasti dia datang,” kata Siti.
Kebugaran fisik Jumaria bahkan membuat rekan sesama jemaah kewalahan mengimbanginya saat berjalan.
“Sampai-sampai saya berjalan cepat, dia masih bisa lari tarik saya,” ungkap Marwati, rekan satu kamar Jumaria.
Jumaria tergabung dalam Embarkasi UPG Kloter 14. Di usianya yang telah lebih dari 70 tahun, ia akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Kota Suci Madinah setelah hampir 20 tahun menabung untuk berhaji.
Sehari-hari, Jumaria hidup seorang diri di rumah sederhana yang berada di tengah area persawahan. Ia bekerja sebagai petani sawah sekaligus buruh kebun demi memenuhi kebutuhan hidup dan mengumpulkan biaya haji.
Sedikit demi sedikit hasil panen dan upah kerja ia sisihkan dengan disiplin.
“Kalau sudah panen padi, aku jual, baru kusimpan,” tutur Jumaria mengutip laman MUI.
Tak hanya hasil sawah, upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain juga rutin ia tabung.
“Kadang 500, kadang 700. Ada lagi punya kebun yang kukerja, dia kasih 200, saya simpan,” katanya.
Karena tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang, Jumaria menaruh tabungannya di berbagai sudut rumah agar tidak diketahui orang lain. Mulai dari bawah kasur hingga ember yang ditutup kain bekas.
Dalam kondisi hidup serba terbatas, Jumaria memilih mempertahankan uang hajinya tetap utuh meski harus hidup sederhana.
“Kalau tidak ada lauk, saya masak daun ubi saja,” ujarnya.
Sesekali, ia memasak telur dari ayam peliharaannya untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Seluruh perjuangan panjang itu kini terbayar. Di Tanah Suci, Jumaria mengaku bersyukur cita-cita yang ia jaga selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
“Aku berdoa supaya panjang umur saja, semoga dikasih ke sini lagi,” ucapnya penuh haru.
Di balik kisah perjuangannya, Jumaria juga dikenal memiliki kondisi fisik yang sangat baik. Ketua Kloter 14 UPG, Siti Hawaisyah, mengatakan Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 karena memiliki istithaah kesehatan yang prima.
Menurutnya, kondisi fisik dan mental Jumaria dinilai sangat siap menjalankan ibadah haji.
“Itu buktinya tidak merah kartu kesehatannya, berarti dia sehat,” ujar Siti Hawaisyah.
Meski telah lanjut usia, Jumaria disebut sangat aktif dan mandiri. Bahkan selama mengikuti manasik haji di daerahnya, ia tidak pernah absen dari total 80 kali pertemuan.
“Biar hujan atau panas, pasti dia datang,” kata Siti.
Kebugaran fisik Jumaria bahkan membuat rekan sesama jemaah kewalahan mengimbanginya saat berjalan.
“Sampai-sampai saya berjalan cepat, dia masih bisa lari tarik saya,” ungkap Marwati, rekan satu kamar Jumaria.

