Anggota Komisi VIII DPR RI Hasan Basri Agus saat Rapat Dengar Pendapat (RDP). Foto DPR.
Jakarta. BeritaHaji.id - Komisi VIII DPR RI meminta adanya evaluasi terhadap layanan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Evaluasi itu mencakup kapasitas pendampingan, kecukupan biaya operasional, hingga dukungan fasilitas yang diberikan pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI Hasan Basri Agus saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama pengurus KBIHU DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.
Menurut Hasan, DPR ingin mengetahui sejauh mana kemampuan setiap KBIHU dalam membimbing jemaah haji. Ia juga mempertanyakan apakah biaya bimbingan sebesar Rp3,5 juta per jemaah cukup untuk mendukung layanan sejak persiapan keberangkatan hingga kepulangan ke Tanah Air.
"Kami ingin tahu, satu KBIHU itu berapa orang kekuatan yang bisa dibimbing. Soalnya kalau kita lihat tadi, dana yang dikumpul satu orang cuma Rp3,5 juta. Mulai dari persiapan pembimbing, dari sebelum berangkat, berangkat sampai pulang. Apa cukup dengan uang Rp3,5 juta itu?" katanya.
Selain menyoroti biaya bimbingan, Hasan juga meminta penjelasan mengenai fasilitas yang diterima KBIHU dari pemerintah. Menurutnya, informasi tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana dukungan negara terhadap lembaga pendamping jemaah haji.
"Fasilitas apa yang didapati oleh KBIHU dari Kementerian Haji? Apa ada yang ditanggung dalam kegiatan pelaksanaan haji atau yang lainnya, kami tidak ada informasi tentang itu," ujarnya.
Meski demikian, Hasan mengapresiasi peran KBIHU yang dinilai telah membantu jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.
"Kita sangat terbantu dengan pendamping haji kemarin. Di samping memang KBIHU ini yang menurut kami luar biasa juga," ujar Hasan Basri Agus.
Hasan juga mengingatkan agar KBIHU tetap memberikan perhatian kepada jemaah yang tidak tergabung dalam kelompok bimbingan. Menurutnya, seluruh jemaah dalam satu rombongan, terutama lansia, tetap membutuhkan pendampingan selama menjalankan ibadah.
"Walaupun tidak dibimbing KBIHU, kalau sudah satu rombongan Bapak-Ibu, ya tolong juga lah diurus konsumsinya, sama-sama dengan yang lainnya," ujarnya.
Di sisi lain, Hasan turut menyoroti pelaksanaan istithaah kesehatan jemaah haji. Meski angka kematian jemaah pada musim haji 2026 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, ia menilai masih ada proses pemeriksaan kesehatan yang perlu dievaluasi.
"Masalah istithaah ini walaupun tahun 2026 orang yang meninggal cukup berkurang dibandingkan tahun yang lalu, tetapi ada juga yang kecolongan. Ini mungkin ketidaktelitian dari pihak kesehatan di daerahnya masing-masing. Itu juga menjadi bahan evaluasi kami ke depan," tuturnya.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI Hasan Basri Agus saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama pengurus KBIHU DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur di Gedung Nusantara II DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.
Menurut Hasan, DPR ingin mengetahui sejauh mana kemampuan setiap KBIHU dalam membimbing jemaah haji. Ia juga mempertanyakan apakah biaya bimbingan sebesar Rp3,5 juta per jemaah cukup untuk mendukung layanan sejak persiapan keberangkatan hingga kepulangan ke Tanah Air.
"Kami ingin tahu, satu KBIHU itu berapa orang kekuatan yang bisa dibimbing. Soalnya kalau kita lihat tadi, dana yang dikumpul satu orang cuma Rp3,5 juta. Mulai dari persiapan pembimbing, dari sebelum berangkat, berangkat sampai pulang. Apa cukup dengan uang Rp3,5 juta itu?" katanya.
Selain menyoroti biaya bimbingan, Hasan juga meminta penjelasan mengenai fasilitas yang diterima KBIHU dari pemerintah. Menurutnya, informasi tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana dukungan negara terhadap lembaga pendamping jemaah haji.
"Fasilitas apa yang didapati oleh KBIHU dari Kementerian Haji? Apa ada yang ditanggung dalam kegiatan pelaksanaan haji atau yang lainnya, kami tidak ada informasi tentang itu," ujarnya.
Meski demikian, Hasan mengapresiasi peran KBIHU yang dinilai telah membantu jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.
"Kita sangat terbantu dengan pendamping haji kemarin. Di samping memang KBIHU ini yang menurut kami luar biasa juga," ujar Hasan Basri Agus.
Hasan juga mengingatkan agar KBIHU tetap memberikan perhatian kepada jemaah yang tidak tergabung dalam kelompok bimbingan. Menurutnya, seluruh jemaah dalam satu rombongan, terutama lansia, tetap membutuhkan pendampingan selama menjalankan ibadah.
"Walaupun tidak dibimbing KBIHU, kalau sudah satu rombongan Bapak-Ibu, ya tolong juga lah diurus konsumsinya, sama-sama dengan yang lainnya," ujarnya.
Di sisi lain, Hasan turut menyoroti pelaksanaan istithaah kesehatan jemaah haji. Meski angka kematian jemaah pada musim haji 2026 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, ia menilai masih ada proses pemeriksaan kesehatan yang perlu dievaluasi.
"Masalah istithaah ini walaupun tahun 2026 orang yang meninggal cukup berkurang dibandingkan tahun yang lalu, tetapi ada juga yang kecolongan. Ini mungkin ketidaktelitian dari pihak kesehatan di daerahnya masing-masing. Itu juga menjadi bahan evaluasi kami ke depan," tuturnya.


.png)