Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggelar Uji Cita Rasa Nusantara bagi calon penyedia makanan siap saji dan bumbu pasta konsumsi jemaah haji musim 1447 H/2026 M.
Jakarta. EDUKASIA.ID - Sentuhan rasa Nusantara kembali diuji untuk layanan jemaah haji Indonesia. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggelar Uji Cita Rasa Nusantara bagi calon penyedia makanan siap saji dan bumbu pasta konsumsi jemaah haji musim 1447 H/2026 M. Kegiatan tersebut berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis, 8 Januari 2026.
Program ini menjadi bagian dari strategi penguatan ekosistem ekonomi haji nasional sekaligus membuka ruang partisipasi bagi pelaku usaha dan UMKM pangan dalam negeri.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi (PEE) Kemenhaj, Zainal Effendi, menilai cita rasa yang akrab dengan lidah Indonesia memiliki peran penting bagi kondisi jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Kita memahami betapa pentingnya sentuhan rasa yang familiar di tengah cuaca ekstrem, kelelahan, dan kerinduan akan tanah air. Hidangan dengan cita rasa rempah yang tepat, kuah yang menghangatkan, atau sambal yang khas dapat menjadi penyembuh rindu dan penguat semangat yang luar biasa,” ujar Zainal.
Uji cita rasa ini menilai berbagai produk makanan siap saji (Ready to Eat/RTE) dari 9 perusahaan serta produk bumbu pasta dari 10 perusahaan calon penyedia konsumsi jemaah haji. Proses penilaian dilakukan oleh tim penguji independen yang melibatkan unsur akademisi dan pihak terkait penyediaan konsumsi haji.
Selain menguji rasa, kegiatan ini juga bertujuan memastikan keseimbangan gizi dengan cita rasa khas Indonesia yang sesuai dengan kondisi operasional haji di Arab Saudi. Inovasi menu dan kemasan yang aman serta mudah didistribusikan turut menjadi perhatian utama.
Menteri Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf, menegaskan pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas konsumsi jemaah haji Indonesia, baik dari sisi rasa, gizi, maupun keamanan pangan.
“Kita tidak ingin lagi mendengar keluhan tentang rasa yang tidak familiar atau gizi yang kurang optimal. Kita menginginkan sebaliknya: makanan yang halal, thayyib, bergizi tinggi, aman, sekaligus membawa identitas dan kehangatan Nusantara,” ujar Menhaj.
Irfan menambahkan, pemenuhan konsumsi jemaah haji harus berpegang pada prinsip halalan thayyiban, mengedepankan kekayaan kuliner Nusantara yang adaptif dan inovatif, serta dilakukan melalui kolaborasi nasional dengan orientasi pada kebutuhan dan kenyamanan jemaah.
Melalui pendekatan ekosistem ekonomi haji, Kemenhaj menegaskan bahwa penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya soal layanan ibadah, tetapi juga menjadi sarana mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM dan industri pangan dalam negeri.
Ditjen PEE berharap, Uji Cita Rasa Nusantara ini dapat menghasilkan produk konsumsi jemaah haji yang memenuhi standar layanan dan kesehatan, sekaligus menjadi representasi kekayaan kuliner Indonesia yang membanggakan di kancah global.


