Media Briefing: Outlook Penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M di Jakarta. Foto Kemenhaj.
Jakarta. BeritaHaji.id – Biaya layanan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M dipastikan turun. Pemerintah menegaskan penurunan biaya tersebut tidak berdampak pada kualitas layanan jemaah.
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menyebut biaya Armuzna tahun ini turun dari sekitar SAR 2.300 menjadi SAR 2.100 per jemaah.
“Biaya Armuzna turun dari sekitar SAR 2.300 menjadi SAR 2.100 per jemaah. Penurunan ini tidak mengurangi kualitas layanan karena seluruh kontrak menggunakan skema harga bersih tanpa cashback dan tanpa fee,” ujarnya dalam Media Briefing: Outlook Penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Menhaj menegaskan, kesiapan penyelenggaraan haji tahun ini diarahkan lebih humanis dengan mengedepankan pelindungan jemaah. Salah satu fokusnya adalah penguatan layanan ramah perempuan.
“Penyelenggaraan haji tahun ini kami arahkan lebih humanis. Jumlah petugas akan kami perbanyak, termasuk pembimbing perempuan, karena mayoritas Jemaah Haji Indonesia adalah perempuan,” katanya.
Selain layanan, progres pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) juga dilaporkan berjalan positif di sejumlah daerah.
“Sumatera Barat hampir 100%, Aceh sudah 83% dan Sumatera Utara lebih dari 90%. Kami optimistis dalam dua hari ke depan pelunasan Bipih bisa mencapai 100%secara nasional,” ungkap Menhaj.
Isu istithaah kesehatan menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Menurut Menhaj, standar kesehatan jemaah akan diterapkan secara ketat sesuai kebijakan Pemerintah Arab Saudi.
“Pemerintah Arab Saudi memberi perhatian khusus pada istithaah kesehatan. Pemeriksaan akan dilakukan secara acak dan jemaah yang tidak memenuhi syarat berpotensi dipulangkan. Karena itu, tidak boleh ada pihak yang memaksakan keberangkatan jemaah yang tidak layak secara kesehatan,” tegasnya.
Di sisi layanan, Kementerian Haji dan Umrah juga melakukan sejumlah perbaikan, baik di Tanah Air maupun di Arab Saudi. Upaya itu meliputi optimalisasi pemeriksaan di bandara, seleksi ketat syarikah, serta pendistribusian kartu Nusuk sejak embarkasi.
“Semua ini kami lakukan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah sejak dari Tanah Air hingga kembali ke Indonesia,” kata Menhaj.
Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam mengawal penyelenggaraan ibadah haji agar berjalan transparan dan akuntabel.
“Media adalah mitra strategis kami untuk memastikan pelaksanaan haji berjalan transparan, akuntabel, dan berpihak pada keselamatan serta kenyamanan jemaah,” pungkasnya.


