Direktur Jenderal Pengendalian Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid. Foto Himpuh News.
BeritaHaji.id - Pemerintah menegaskan distribusi kartu nusuk bagi jamaah calon haji Indonesia harus tuntas sebelum keberangkatan ke Arab Saudi.
Kebijakan ini ditegaskan menyusul evaluasi penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya yang masih menyisakan persoalan akses jamaah di Tanah Suci.
Direktur Jenderal Pengendalian Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid, menegaskan kartu pintar nusuk wajib diterima jamaah sejak masih berada di Indonesia.
"Kartu nusuk ini mutlak harus diserahkan di Indonesia," kata Harun saat memberikan pembekalan kepada 90 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Embarkasi Haji Padang, Kota Padang, Kamis, 5 Februari 2026 dikutip dari Himpuh News.
Harun menekankan, penegasan ini tidak lepas dari pengalaman penyelenggaraan haji pada tahun-tahun sebelumnya. Dalam beberapa musim haji terakhir, masih ditemukan jamaah Indonesia yang tiba di Arab Saudi tanpa memegang kartu nusuk.
Kondisi tersebut, menurutnya, kerap memicu berbagai kendala teknis selama pelaksanaan ibadah haji. Mulai dari akses layanan, mobilitas jamaah, hingga hambatan masuk ke area-area utama pelaksanaan ibadah.
“Kartu nusuk merupakan instrumen penting dalam sistem pelayanan haji di Arab Saudi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi masalah serupa, Kemenhaj mengambil langkah konkret pada penyelenggaraan haji 1447 Hijriah. Setiap syarikah diminta membuka kantor perwakilan di Jakarta.
"Keberadaan kantor ini diharapkan mempermudah proses pendistribusian kartu nusuk kepada seluruh jamaah calon haji sebelum keberangkatan," ujarnya.
Tak hanya itu, setiap syarikah juga diminta merekrut pegawai di Jakarta agar proses distribusi kartu nusuk ke embarkasi-embarkasi haji di Indonesia bisa berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.
Dengan memegang kartu nusuk sejak dari tanah air, jamaah dipastikan memiliki kepastian akses ke wilayah-wilayah krusial selama ibadah haji. Mulai dari Makkah, Madinah, hingga area puncak haji.
Kartu nusuk berfungsi bukan hanya sebagai identitas jamaah, tetapi juga sebagai kunci akses ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Pendistribusian sejak di Indonesia dinilai jauh lebih efektif untuk memangkas potensi persoalan teknis yang selama ini kerap muncul jika pembagian dilakukan setelah jamaah tiba di Arab Saudi.


.png)
