Ketua Kloter SUB 77, Asnawi. Foto Kemenhaj.
Makkah. BeritaHaji.id - Tanpa pendamping dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), jemaah haji mandiri asal Sumenep yang tergabung dalam Kloter SUB 77 ternyata mampu menjalani ibadah dengan tertib di Tanah Suci.
Kuncinya ada pada kekompakan rombongan, pendampingan petugas kloter, hingga cara kreatif menyampaikan informasi kepada para lansia.
Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengatakan sejak awal pihaknya sadar pola pendampingan bagi jemaah non-KBIHU harus dibuat berbeda. Sebab, sebagian besar jemaah dalam rombongan tersebut merupakan lansia.
“Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” kata Asnawi saat ditemui di Hotel Rawdat Alsharia, Makkah, Kamis, 14 Mei 2026.
Karena itu, sebelum keberangkatan, para petugas lebih dulu membangun kekompakan internal. Setelah itu, ketua regu dan ketua rombongan dikumpulkan untuk menyamakan pola pendampingan selama di Arab Saudi.
Menurut Asnawi, setiap ketua rombongan diminta memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap kelompoknya masing-masing.
“Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diperkuat lewat kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Petugas memberikan simulasi manasik tambahan sekaligus membangun kedekatan dengan para jemaah.
Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jemaah dinilai lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain.
Salah satu yang ikut berperan aktif mendampingi rombongan adalah Moh Kamil. Meski usianya belum genap 30 tahun, ia dipercaya menjadi ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri asal Sumenep di Embarkasi Surabaya Kloter 77.
“Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” katanya.
Kamil mengaku memperkuat bekal manasik sebelum berangkat dengan kembali belajar kepada guru-gurunya di pesantren. Pengalaman itu kemudian dipakai untuk membantu jemaah lain memahami alur ibadah haji.
Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari perbedaan kemampuan jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi.
“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” ujarnya.
Video tersebut dibuat menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura. Isinya berisi panduan praktis, mulai dari cara menggunakan lift hotel, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, hingga penggunaan fasilitas selama di Arab Saudi.
Cara sederhana itu dinilai lebih mudah dipahami para lansia dibanding penjelasan panjang di grup pesan singkat.
“Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami,” ucapnya.
Cerita lain datang dari Suwaris Bahir. Pria yang bekerja di bidang perikanan itu mengaku sejak awal mantap memilih jalur haji mandiri tanpa KBIHU.
Baginya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup rinci untuk menjadi bekal selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan,” ujarnya.
Suwaris mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Ia juga merasa petugas kloter aktif mendampingi jemaah selama perjalanan ibadah.
“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya.
Selain lebih fleksibel, jalur mandiri menurutnya juga terasa lebih ringan dari sisi biaya.
"Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” ucapnya.
Sementara itu, E.A.A. Nurhayati Haddjad berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Dosen asal Sumenep tersebut tetap mempersiapkan diri di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sakit stroke.
Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk menjaga stamina sebelum keberangkatan.
“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil.
Selain menjaga kondisi fisik, Nurhayati juga aktif mencari informasi lewat media sosial dan grup jemaah. Menurutnya, informasi digital cukup membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi.
Namun, pengalaman yang paling ia ingat justru soal kebersamaan selama di Tanah Suci. Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi identitas dan membaca dokumen perjalanan.
“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.
Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengatakan sejak awal pihaknya sadar pola pendampingan bagi jemaah non-KBIHU harus dibuat berbeda. Sebab, sebagian besar jemaah dalam rombongan tersebut merupakan lansia.
“Ini tantangan besar karena mereka menggantungkan diri pada petugas kloter,” kata Asnawi saat ditemui di Hotel Rawdat Alsharia, Makkah, Kamis, 14 Mei 2026.
Karena itu, sebelum keberangkatan, para petugas lebih dulu membangun kekompakan internal. Setelah itu, ketua regu dan ketua rombongan dikumpulkan untuk menyamakan pola pendampingan selama di Arab Saudi.
Menurut Asnawi, setiap ketua rombongan diminta memiliki rasa tanggung jawab penuh terhadap kelompoknya masing-masing.
“Ketika merasa punya tanggung jawab moral, mereka jadi lebih serius belajar dan mendampingi jemaah,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diperkuat lewat kunjungan rutin ke desa-desa dan wilayah kepulauan di Sumenep selama dua hingga tiga bulan sebelum keberangkatan. Petugas memberikan simulasi manasik tambahan sekaligus membangun kedekatan dengan para jemaah.
Hasilnya mulai terlihat setibanya mereka di Makkah. Para jemaah dinilai lebih tertib dan saling menjaga satu sama lain.
Salah satu yang ikut berperan aktif mendampingi rombongan adalah Moh Kamil. Meski usianya belum genap 30 tahun, ia dipercaya menjadi ketua rombongan bagi 43 jemaah haji mandiri asal Sumenep di Embarkasi Surabaya Kloter 77.
“Awalnya saya juga berpikir mungkin lebih aman kalau ada pendamping dari KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah). Tapi setelah bertemu petugas-petugas kloter, kami merasa cukup didampingi,” katanya.
Kamil mengaku memperkuat bekal manasik sebelum berangkat dengan kembali belajar kepada guru-gurunya di pesantren. Pengalaman itu kemudian dipakai untuk membantu jemaah lain memahami alur ibadah haji.
Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari perbedaan kemampuan jemaah dalam menerima informasi, terutama para lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi.
“Kalau dijelaskan lewat tulisan panjang, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video-video sederhana,” ujarnya.
Video tersebut dibuat menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Madura. Isinya berisi panduan praktis, mulai dari cara menggunakan lift hotel, mengenali jalur menuju Masjidil Haram, hingga penggunaan fasilitas selama di Arab Saudi.
Cara sederhana itu dinilai lebih mudah dipahami para lansia dibanding penjelasan panjang di grup pesan singkat.
“Makanya harus dicari cara yang paling mudah dipahami,” ucapnya.
Cerita lain datang dari Suwaris Bahir. Pria yang bekerja di bidang perikanan itu mengaku sejak awal mantap memilih jalur haji mandiri tanpa KBIHU.
Baginya, manasik yang diberikan pemerintah sudah cukup rinci untuk menjadi bekal selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan,” ujarnya.
Suwaris mengikuti manasik berkali-kali, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Ia juga merasa petugas kloter aktif mendampingi jemaah selama perjalanan ibadah.
“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya.
Selain lebih fleksibel, jalur mandiri menurutnya juga terasa lebih ringan dari sisi biaya.
"Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” ucapnya.
Sementara itu, E.A.A. Nurhayati Haddjad berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Dosen asal Sumenep tersebut tetap mempersiapkan diri di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sakit stroke.
Ia rutin berjalan kaki di sekitar desa dan taman kota untuk menjaga stamina sebelum keberangkatan.
“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil.
Selain menjaga kondisi fisik, Nurhayati juga aktif mencari informasi lewat media sosial dan grup jemaah. Menurutnya, informasi digital cukup membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru di Arab Saudi.
Namun, pengalaman yang paling ia ingat justru soal kebersamaan selama di Tanah Suci. Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi identitas dan membaca dokumen perjalanan.
“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.

