Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB, An’im Falachuddin. Foto Kemenhaj.
Jakarta. BeritaHaji.id – Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB, An’im Falachuddin, meminta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiapkan skema pengawasan dan pelayanan khusus bagi jemaah haji Indonesia pada 2026.
Permintaan itu muncul setelah data medis menunjukkan mayoritas jemaah masuk kategori risiko tinggi dari sisi kesehatan.
“Dengan kondisi 83 persen jemaah termasuk kategori risiko tinggi, maka pengawasan khusus tidak bisa ditawar. Ini penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk,” ujar tokoh yang akrab disapa Kiai An’im di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Data Kementerian Agama mencatat, dari total 203.320 jemaah haji reguler Indonesia, sekitar 170.000 orang atau 83 persen tergolong jemaah risiko tinggi (risti). Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi penyelenggara haji dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan jemaah selama berada di Tanah Suci.
Kiai An’im menyoroti beratnya tantangan fisik yang dihadapi jemaah, terutama cuaca ekstrem dengan suhu yang diperkirakan menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Aktivitas ibadah yang padat dan menguras tenaga, ditambah kepadatan massa, berpotensi memperburuk kondisi kesehatan jemaah lansia maupun mereka yang memiliki penyakit bawaan.
“Dari tahun ke tahun memang mayoritas jemaah kita didominasi Lansia karena masa tunggu keberangkatan yang capai puluhan tahun,” katanya.
Ia pun meminta petugas haji lebih proaktif melakukan pemantauan kesehatan rutin serta memberikan pendampingan saat mobilisasi jemaah. Selain itu, pengaturan jadwal ibadah diharapkan dibuat lebih manusiawi agar sesuai dengan keterbatasan fisik jemaah risti.
“Tanpa pendampingan memadai, jemaah risiko tinggi dikhawatirkan mengalami kondisi darurat kesehatan. Di sinilah peran strategis petugas haji benar-benar diuji untuk memberikan respons cepat,” tegas legislator PKB tersebut.
Lebih lanjut, Kiai An’im mendorong penguatan koordinasi antara petugas layanan umum dan tenaga kesehatan, termasuk pemanfaatan data jemaah risti yang akurat. Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis yang berorientasi pada keselamatan jiwa dalam penyelenggaraan haji.
“Kesuksesan haji bukan hanya soal kelancaran ritual, tapi juga memastikan seluruh jemaah, terutama yang berisiko tinggi, dapat pulang ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan selamat,” pungkasnya.
“Dengan kondisi 83 persen jemaah termasuk kategori risiko tinggi, maka pengawasan khusus tidak bisa ditawar. Ini penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk,” ujar tokoh yang akrab disapa Kiai An’im di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Data Kementerian Agama mencatat, dari total 203.320 jemaah haji reguler Indonesia, sekitar 170.000 orang atau 83 persen tergolong jemaah risiko tinggi (risti). Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi penyelenggara haji dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan jemaah selama berada di Tanah Suci.
Kiai An’im menyoroti beratnya tantangan fisik yang dihadapi jemaah, terutama cuaca ekstrem dengan suhu yang diperkirakan menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Aktivitas ibadah yang padat dan menguras tenaga, ditambah kepadatan massa, berpotensi memperburuk kondisi kesehatan jemaah lansia maupun mereka yang memiliki penyakit bawaan.
“Dari tahun ke tahun memang mayoritas jemaah kita didominasi Lansia karena masa tunggu keberangkatan yang capai puluhan tahun,” katanya.
Ia pun meminta petugas haji lebih proaktif melakukan pemantauan kesehatan rutin serta memberikan pendampingan saat mobilisasi jemaah. Selain itu, pengaturan jadwal ibadah diharapkan dibuat lebih manusiawi agar sesuai dengan keterbatasan fisik jemaah risti.
“Tanpa pendampingan memadai, jemaah risiko tinggi dikhawatirkan mengalami kondisi darurat kesehatan. Di sinilah peran strategis petugas haji benar-benar diuji untuk memberikan respons cepat,” tegas legislator PKB tersebut.
Lebih lanjut, Kiai An’im mendorong penguatan koordinasi antara petugas layanan umum dan tenaga kesehatan, termasuk pemanfaatan data jemaah risti yang akurat. Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis yang berorientasi pada keselamatan jiwa dalam penyelenggaraan haji.
“Kesuksesan haji bukan hanya soal kelancaran ritual, tapi juga memastikan seluruh jemaah, terutama yang berisiko tinggi, dapat pulang ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan selamat,” pungkasnya.


