Kartu Nusuk. Foto Amphuri.
Jakarta. BeritaHaji.id - Jamaah haji Indonesia akan mendapatkan Kartu Nusuk lebih awal pada penyelenggaraan haji 2026 Masehi atau 1447 Hijriah. Kartu identitas wajib tersebut nantinya sudah dibagikan sejak masih berada di Indonesia, tidak lagi menunggu jamaah tiba di Arab Saudi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kebijakan baru ini diterapkan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya penertiban dan pengendalian pergerakan jamaah selama musim haji. Kartu Nusuk menjadi identitas resmi jamaah untuk masuk ke wilayah Makkah, Masjidil Haram, serta mengikuti puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Staf Teknis Urusan Haji KJRI Jeddah, Hasyim bin Salim Hilaby, menyebut pembagian Kartu Nusuk sejak di Tanah Air diharapkan membuat jamaah lebih tenang sebelum berangkat.
"Insyaallah akan diadakan di Indonesia. Dan mudah-mudahan efektif semuanya. Karena harapan kami Kartu Nusuk itu sudah bisa diterima di Indonesia. Agar jamaah itu sudah mudah, tenang," tutur Hasyim di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026 dikutip dari laman NU Online.
Terkait potensi kekhawatiran kartu hilang sebelum keberangkatan, Hasyim menjelaskan pengelolaan Kartu Nusuk akan dilakukan secara kolektif oleh regu kelompok terbang (kloter). Setibanya di Arab Saudi, kartu tersebut akan dibagikan kembali kepada jamaah sesuai kebutuhan.
"Setibanya di Arab Saudi, saat jemaah akan mengakses Masjidil Haram, kartu nusuk akan dibagikan kembali. Setelah pelaksanaan tawaf qudum selesai, kartu tersebut dapat dikumpulkan kembali. Kemudian, saat jemaah akan mengakses Masjid Nabawi, kartu Nusuk kembali dibagikan,” jelasnya.
Menurut Hasyim, fungsi Kartu Nusuk tidak hanya sebagai identitas jamaah, tetapi juga sebagai alat kontrol bagi otoritas Arab Saudi dalam mengatur pergerakan orang selama musim haji.
"Kartu Nusuk ini sangat penting karena berfungsi sebagai simbol dan alat kontrol agar tidak ada orang-orang yang ilegal atau tidak terdaftar yang dapat mengganggu kelancaran dan rotasi perjalanan jemaah saat melaksanakan ibadah haji," ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Kartu Nusuk awalnya hanya digunakan oleh petugas haji. Pada 2023, kartu ini mulai diterapkan secara digital dan pada 2025 telah dilengkapi dengan kartu fisik.
"Percobaan pertama kartu nusuk dibentuk adalah untuk petugas. Jangan sampai nanti ada petugas yang masuk ke Arafah, masuk ke Mina, tetapi mengganggu atau mencuri atau masuk ke hotel jemaah haji,” jelasnya.
Hasyim menegaskan Kartu Nusuk tidak bisa diduplikasi dan desainnya selalu berubah setiap tahun. Meski demikian, tantangan utama dalam penggunaan kartu ini masih terletak pada proses aktivasi.
“Jadi kartu nusuk yang tidak di aktivasi tidak ada gunanya,” tegas Hasyim.


