Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak. Foto Kemenhaj.
Jakarta. BeritaHaji.id – Penyelenggaraan ibadah haji 2026 diarahkan menjadi lebih inklusif dan berpihak kepada kelompok rentan. Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan, seluruh petugas haji harus menjadikan keadilan dan empati sebagai fondasi utama pelayanan, khususnya bagi jemaah perempuan dan lansia.
Adapun Dahnil mengajak para petugas menengok kembali nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah SAW saat Haji Wada. Ia menyebut, pesan Nabi dalam haji terakhir tersebut tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga menekankan kemanusiaan dan keadilan sosial.
“Kalau kita membaca sejarah, kita ingat sekali salah satu pesan utama dari Haji Wada. Dalam khutbah tersebut, Rasulullah SAW secara tegas menyampaikan pesan kepedulian: jaga dan muliakan perempuan-perempuan kalian,” ujar Wamenhaj saat memberikan arahan pada apel pagi Diklat Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu, 24 Januari 2026.
Ia menilai, pesan tersebut relevan dan harus menjadi pijakan dalam merancang kebijakan serta layanan haji Indonesia tahun 2026. Karena itu, pemerintah tidak hanya berbicara soal teknis, tetapi juga tentang keberpihakan.
"Selain program Haji Ramah Lansia, pemerintah juga secara serius mengusung tema Haji Ramah Perempuan sebagai afirmasi nyata dalam penyelenggaraan ibadah haji,' ujarnya.
Dahnil menjelaskan, komposisi jemaah haji Indonesia menunjukkan kebutuhan mendesak akan layanan yang lebih sensitif. Lebih dari separuh jemaah haji Indonesia merupakan perempuan, sementara sekitar seperempatnya tergolong lansia. Dari kelompok lansia tersebut, sebagian besar juga perempuan.
"Fakta ini menuntut kehadiran layanan haji yang lebih sensitif, protektif, dan berperspektif gender," katanya.
Menurut Dahnil, arah kebijakan ini juga merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto yang ditegaskan melalui Menteri Agama. Pemerintah ingin memastikan haji tidak hanya tertib, tetapi juga afirmatif.
"Ia menuturkan Tahun ini, atas perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, Bapak Menteri menegaskan bahwa haji harus menjadi haji yang afirmatif berpihak kepada perempuan dan berpihak kepada lansia."
Komitmen tersebut turut tercermin dalam komposisi petugas haji. Pada penyelenggaraan haji 2026, sebanyak 33 persen petugas haji adalah perempuan. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perhajian Indonesia.
“Ini bukan angka simbolik. Ini adalah yang tertinggi dalam sejarah. Kehadiran petugas perempuan sangat penting untuk memastikan jemaah perempuan dan lansia mendapatkan layanan yang aman, nyaman, dan bermartabat,” ucap Wamenhaj.
Menutup arahannya, Dahnil mengingatkan agar peserta Diklat PPIH Arab Saudi 2026 tidak berhenti pada pemahaman prosedur. Ia berharap nilai-nilai Haji Wada benar-benar diinternalisasi sebagai semangat melayani.


