Dosen di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Foto Kemenhaj.
Jakarta. BeritaHaji.id - Pendekatan baru diterapkan dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026. Pelatihan tak lagi sebatas bimbingan teknis, melainkan dirancang sebagai pendidikan dan pelatihan dengan pola semi-militer.
Hal itu dirasakan langsung oleh Iffan Ahmad Gufron, peserta diklat PPIH Arab Saudi 2026. Meski sehari-hari berprofesi sebagai dosen di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan terbiasa berada di ruang kelas, suasana diklat kali ini dinilainya berbeda.
“Yang paling terasa adalah perubahan paradigma. Ini bukan sekadar bimtek, tapi benar-benar pendidikan dan pelatihan yang membentuk karakter,” ungkap Iffan, ditulis Rabu, 21 Januari 2026.
Ia menjelaskan, perubahan tersebut terlihat dari durasi pelatihan yang lebih panjang serta materi yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis operasional. Nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan kemampuan bekerja dalam tim menjadi perhatian utama dalam diklat kali ini.
“Waktunya lebih lama, dan fokusnya bukan cuma soal teknis. Ada pembiasaan disiplin dan rasa kebersamaan. Itu penting, karena di lapangan nanti kita bekerja dalam tekanan dan kondisi yang tidak ringan,” jelasnya.
Sebagai akademisi, Iffan menilai materi diklat sudah relevan dengan kebutuhan petugas haji. Namun, ia melihat masih ada ruang untuk penguatan, khususnya melalui pendekatan berbasis pengalaman nyata di lapangan.
“Materinya relate dengan tugas petugas. Tapi akan lebih kuat kalau diperbanyak studi kasus dan realitas di lapangan,” ujarnya.
Ia mencontohkan materi mengenai larangan penggunaan media sosial bagi petugas haji. Menurutnya, pemahaman peserta akan lebih maksimal jika disertai contoh konkret.
“Misalnya, larangan medsos itu dijelaskan lebih detail: larangan apa saja, contoh kasusnya seperti apa. Jadi petugas benar-benar paham batasannya,” tambah Iffan.
Dari seluruh materi yang disampaikan, penguatan Bahasa Arab menjadi salah satu yang paling menarik perhatiannya. Ia menilai kemampuan berbahasa Arab sangat dibutuhkan untuk mendukung komunikasi petugas dengan otoritas Arab Saudi maupun jemaah.
“Bahasa Arab ini sangat bagus. Sangat membantu komunikasi petugas saat bertugas nanti,” katanya.
Secara umum, Iffan menilai Diklat PPIH Arab Saudi 2026 telah berjalan dengan baik dan mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menyiapkan petugas haji yang profesional dan siap menghadapi tantangan di Tanah Suci.
“Secara keseluruhan sudah baik. Tinggal penyempurnaan di beberapa aspek agar petugas semakin siap menghadapi kondisi nyata di lapangan,” tandasnya.


